Cabai Kering

DSCN4697

Cabai berdasarkan hasil pencarian di situs kateglo adalah kata benda (nomina) yang didefinisikan sebagai:

  1. tanaman perdu yang buahnya berbentuk bulat panjang dengan ujung meruncing, apabila sudah tua berwarna merah kecokelat-cokelatan atau hijau tua, berisi banyak biji yang pedas rasanya; lombok; Capsicum
  2. buah cabai (biasa dibuat sambal atau campuran sayur)

Tanaman dari genus capsicum ini begitu erat kaitannya dengan berbagai makanan nusantara, rasanya yang pedas menimbulkan selera makan orang Indonesia. Mengenai asal usul cabai di nusantara apakah tanaman lokal atau didatangkan dari perdagangan/hubungan dengan bangsa asing ada berbagai teori, tulisan Achmad Sunjayadi tentang Sambal Setan menyinggung beberapa bukti/teori permulaan cabai di Nusantara.

Cabai memang pedas ciri khas yang membuatnya digemari masyarakat Indonesia sayangnya cabai juga sering menimbulkan kepanikan bila harganya membubung tinggi bahkan pemerintah pun beberapa kali mengakui cabai dapat memicu lonjakan inflasi.

2015-01-05_140706

Pantauan harga cabe merah besar nasional 06/12/2014-05/01/2015 dari situs Kementerian Perdagangan

2015-01-05_141001

Harga bahan pokok DKI Jakarta menurut Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag

Tulisan saya kali ini didorong tulisan Pratomo Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani di rubrik konsultasi yang bernama Jendela Agrobisnis yang dimuat koran Suara Merdeka pada edisi 24 Desember 2014. Pada satu bagian ia menulis bagaimana masyarakat Thailand bersiasat menghadapi tingginya harga cabai. Menurut Pratomo masyarakat Thailand mengubah perilaku konsumsi cabai-nya, mereka jarang memasak dengan cabai segar. Mereka terbiasa menyimpan cabai yang dikeringkan dengan sinar matahari atau oven dengan kadar air hampir nol. Cabai kering apabila direbus bentuknya akan kembali lagi seperti saat masih segar dan ditulis juga soal rasa kita tidak akan begitu merasakan perbedaan. Pratomo mengambil contoh masakan Thailand seperti tom yam, gang sok pak ruam atau panai gai tetap terkenal dengan rasa asam pedasnya tetapi tidak pernah terdengar masyarakat Thailand panik dengan lonjakan harga cabai.

Soal cabai kering ini mengingatkan saya  film Slumdog Millionaire yang dirilis pada tahun 2008, pada salahsatu bagian adegan terdapat juntaian cabai kering yang dijemur di depan rumah. Hal ini membuat saya menarik kesimpulan masyarakat India yang terkenal dengan masakan pedasnya pun terbiasa dengan penggunaan cabai kering seperti halnya masyarakat Thailand. Ketika berkeliling di beberapa pasar di Jakarta, saya baru sekali menemui penjual cabai kering yang digantung seperti gaya di film Slumdog Millionaire tadi yaitu sebuah toko di seberang los sayur Pasar Induk Kramat Jati.

Di Indonesia yang lebih lazim ditemui adalah penggunaan cabai kering dalam bentuk bubuk, bisa dibeli di pasar maupun supermarket baik yang bermerk maupun tanpa merk sayangnya jarang yang terasa pedas, sekali saya menemui yang cukup pedas yaitu cabai bubuk yang digunakan teman saya di kios miliknya mietoel. Saya pernah juga mencoba cabai bubuk kering yang dicampur ikan teri dengan merk Ninoy produk yang mereka sebut sebagai abon cabe, cukup pedas tapi terasa asin karena campuran ikan terinya.

Minggu kemarin ketika berbelanja di Pasar Kramat Jati, seorang pedagang sayur menyebut harga cabai rawit merah yang sering saya beli sekarang mencapai seratus ribu rupiah per kilo harga yang terasa pedas di kantong. Karena didorong rubrik Jendela Agrobisnis tadi saya jadi tertarik melakukan percobaan membuat cabai kering. Saya memutuskan membeli 1 ons cabai rawit merah seharga sepuluh ribu rupiah sebagai bahan percobaan.

Sebuah tulisan mengenai pembuatan cabai kering pada situs cahiya.com  menganjurkan agar membuang bagian tangkai, membuang biji cabai, istri saya turut menganjurkan membuang batang dalamnya untuk mencegah pembusukan. Sementara untuk pengeringan seperti yang ditulis Pramoto terdapat pilihan menggunakan sinar matahari atau oven, berhubung tujuannya untuk berhemat saya memilih pengeringan dengan sinar matahari dari artikel cahiya.com tadi perlu waktu 7-10 hari untuk mengeringkan cabai di bawah sinar matahari. Kurang lebih langkah-langkah dan petunjuk tersebut yang saya coba ikuti.

DSCN4903

Cabai rawit merah yang sudah dibuang isinya

Hasil akhir belum dapat saya tuliskan karena percobaan ini masih berjalan. Sebagai perbandingan 1 ons cabai rawit merah untuk konsumsi saya pribadi sebelumnya bertahan kira-kira 2 minggu, bukan habis dikonsumsi tetapi banyak yang terpaksa dibuang karena membusuk. Saya pernah mencoba dua cara penyimpanan yaitu yang pertama dengan mencuci cabai dan menyimpannya dalam wadah plastik di kulkas, yang kedua setelah dicuci cabai disimpan di wadah kering dan dijemur sinar matahari ternyata kedua cara ini memberikan hasil tidak jauh berbeda dalam waktu dua minggu dari 1 ons cabai rawit merah banyak cabai yang terpaksa dibuang karena membusuk.


profile-avatar Vicong
Menulis apapun yang dianggap menarik.

Respons

Ada 1 respons untuk “Cabai Kering”.

  1. Vivi

    Bisa tolong dijelaskan gak cara mengeringkan lewat oven? Soalnya artikel nya dari cahiya.com has been suspended skrg.
    Terima kasi 🙂 sangat menunggu jawaban dari Anda

Beri Respons